Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Saturday, May 14, 2016

Menyia-nyiakan Orangtua Sama dengan Mengabaikan Tiket ke Surga Anda

Tolongshareya - Sahabat tolongshareya, adakah penyanyi religi yang anda sukai? Misalkan Sahabat tolongshareya  adalah penggemar dari lagu-lagu Wali Band, kemudian suatu hari mendapat tiket gratis menonton Wali band sekaligus makan dan foto bersama, bahkan tiket transportasi pulang pergi dan biaya penginapan di hotel juga diberikan, bagaimana perasaan Sahabat tolongshareya? pasti Senangkan? Akan digunakankah tiket tersebut? Bukankah amat sayang jika tiket gratis tersebut disia-siakan dan tidak dipakai?

Begitulah kira-kira gambaran orang-orang yang melalaikan orangtuanya, padahal mengaku ingin masuk ke surga… selalu berkata cinta pada surga dan mengharapkan segala kenikmatan yang Allah janjikan di dalamnya, tapi kok tiket ke surganya malah disia-siakan! Bagaimana thoo anda ini?
Sahabat tolongshareya, sudahkah kita menyadari bahwa orangtua kita, apalagi yang sudah berusia lanjut, adalah tiket ke surga bagi diri kita?
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS Al-Israa’: 23)
Sahabat tolongshareya, Islam mengatur kehidupan manusia, termasuk di dalamnya mengenai kewajiban anak kepada orangtua, dan apa-apa saja hak orangtua yang harus dipenuhi oleh anak-anaknya.
Dari ayat di atas, bila disimak betul-betul, jelas tergambar betapa tingginya nilai dari perbuatan baik yang dilakukan seorang anak kepada kedua orangtuanya. Mengapa? Pada kalimat pertama ayat tersebut, uraiUstadz Abdul Hasib Hasan, Lc, tersandingkan dua perintah Allah SWT, yaitu perintah untuk kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah SWT, dan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua.
“Kita tentu tahu kewajiban utama manusia sepanjang hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Itu kewajiban yang utama, yang paling mendasar, sekaligus juga tugas yang paling mulia. Nah, kalau kewajiban berbuat baik kepada kedua orangtua itu disandingkan langsung, tanpa penghalang, dengan kewajiban beribadah kepada Allah, ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada kedua orangtua itu merupakan kewajiban yang juga mendasar dan sekaligus juga perbuatan yang paling mulia, sesudah kewajiban beribadah kepada Allah SWT,” papar lulusan Universitas Imam, Saudi Arabia ini.
Ringkasnya, tambah Ustadz Hasib, wujud kesempurnaan ibadah kita kepada Allah adalah dengan tunduk sepenuhnya kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya, termasuk di dalamnya kita tunduk kepada Allah yang memerintahkan kita agar berbuat baik dengan semaksimal mungkin kepada kedua orangtua.
Itulah mengapa nilai berbuat baik kepada kedua orangtua atau birrul walidain ini sangat tinggi dan sangat mulia di sisi Allah. Bahkan Allah pun tidak tanggung-tanggung dalam memberi reward kepada mereka yang berbuat baik kepada kedua orangtuanya.
 Menyia-nyiakan Tiket ke Surga
Beberapa hadits menguraikan keutamaan dari birrul walidain ini, di antaranya hadits yang mengisahkan bagaimana doa orang yang birrul walidain itu mustajab, dikabulkan Allah. Alkisah ada tiga orang yang pergi ke hutan untuk mencari kayu. Ketika hendak pulang, hujan turun dengan lebat, sehingga mereka berteduh dalam sebuah goa. Lalu, tiba-tiba sebuah batu besar menutup lubang goa tersebut. Ketiga orang ini terperangkap dalam goa. Meski sudah didorong sedemikian rupa, batu itu tak jua bergeser. Lalu, kata mereka, kita tidak akan bisa keluar dari sini kecuali masing-masing kita berdoa dengan menyebutkan amal shalih kita (bertawasul pada amal shalih).
Semua berdoa. Salah seorang di antara mereka berdoa dengan memaparkan bagaimana dirinya selalu mendahulukan orangtuanya. Ia tidak akan makan, bahkan tidak juga istri dan anak-anaknya, sebelum orangtuanya makan. Ia pun berdoa, “Ya Allah, sekiranya yang aku lakukan itu karena perintah Engkau, ikhlas karena Engkau, maka keluarkanlah kami dari perangkap ini.” Akhirnya, batu itu pun bergeser, dan mereka bisa keluar dari goa.
Balasan yang Allah berikan kepada orang-orang yang berbuat baik kepada kedua orangtuanya tidak hanya berupa dikabulkan doa-doanya, tetapi kelak Allah juga akan menghadiahkannya surga.
Seperti yang terungkap dalam hadits berikut. Suatu waktu Rasulullah saw sedang duduk bersama para sahabatnya. Tiba-tiba, Rasulullah mengucapkan “Amin”-“Amin”-“Amin”. Sahabat-sahabat yang ada di sekeliling beliau lantas terkejut. “Ya Rasulullah, mengapa engkau tiba-tiba mengucapkan amin sampai tiga kali?” telisik para sahabat.
Rasulullah pun menceritakan bahwa dirinya kedatangan malaikat Jibril yang menyampaikan tiga hal dan menyuruh beliau mengucap amin setiap Jibril menyelesaikan perkataannya. Salah satu hal yang disampaikan Jibril terkait dengan orangtua. Kata Jibril, celakalah, hinalah, orang yang menjumpai kedua orangtuanya —maksudnya; mengalami hidup bersama dengan kedua orangtuanya—tapi hal itu tidak membuat dirinya masuk surga.
Kenapa Rasul sampai berkata demikian? Jawabannya satu. Karena ini menunjukkan ruginya orang yang tidak berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Padahal dengan hidup bersama orangtuanya, dia memiliki kesempatan yang sangat besar untuk berbuat baik kepada mereka. Kesempatan yang berganjar tiket untukmemasuki surga Allah. Maka abai pada mengurus dan merawat orangtua sama dengan menyia-nyiakansebuah tiket ke surga.
Kalau sedemikian besar balasan yang Allah berikan, lalu mengapa kita dengan mudahnya melalaikan kewajiban berbuat baik kepada kedua orangtua ini?
Mungkin ada beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang tidak menjalankan kewajiban tersebut. Misalnya, semasa kecil sang anak tidak mendapat perlakuan yang baik dari orangtuanya, atau anak enggan merawat orangtua dengan alasan hanya akan merepotkan, atau secara ekonomi anak berkekurangan sehingga khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan orangtua, dan sederet alasan lainnya.
Namun bagaimanapun, tegas Ustadz Hasib, hambatan-hambatan tersebut hendaknya tidak dijadikan dalih untuk tidak berbuat baik atau merawat kedua orangtua kita. Dengan mengandung, melahirkan, merawat kita, dan membesarkan, itu saja sudah menjadi bukti betapa besarnya jasa orangtua kepada anak. Jasa yang tak akan pernah bisa terbayarkan!
Apalagi jika sang anak melontarkan kata-kata ‘toh saya tidak minta dilahirkan’ karena menolak merawat orangtua, jelas hal ini sangat tidak dibenarkan. “Kita ada karena takdir Allah, dan peran orangtua sangat besar dalam hal ini. Bayangkan seandainya Anda ditakdirkan menjadi kera, misalnya. Maka sudah sepatutnya kita bersyukur ditakdirkan Allah sebagai manusia yang mulia, kemudian bersyukur pula berkat orangtua kita dirawat hingga besar. Artinya di situ ada peluang untuk kita bisa masuk surga, yaitu dengan berbuat baik kepada kedua orangtua kita,” urai pendiri dan pengurus Yayasan Al-Hikmah, Jakarta ini.
Ruang lingkup berbuat baik kepada orangtua sangatlah besar. Antara lain seperti yang tercantum dalam ayat 23 QS Al-Israa, yaitu dengan mengucapkan ucapan yang baik, ucapan yang tidak menyakiti perasaannya, sertamemperlakukan keduanya dengan perbuatan yang baik. Bisa pula dengan memenuhi hak-hak orangtua, baikhak materi, hak safety, hak ruhiyah, hingga menjaga perasaan dan ketenteraman.
Bicara tentang materi pun sebenarnya tidak terlalu berarti bagi orangtua, sebab semakin lanjut usia semakin sensitif pula mereka. Membahagiakan batinnya, perasaannya, dengan cara memberikan hati kita kepada mereka, memberi perhatian yang besar untuk mereka, sesungguhnya jauh lebih dibutuhkan orangtua ketimbang materi. Selama kita mampu, upayakan memenuhi kebutuhan materi orangtua. Namun, bila di luaritu pun, ingatlah, Allah tidaklah membebani seseorang di luar kesanggupannya.
Sampai Kapan?
Seringkali terjadi salah pengertian atau kekurangtepatan dalam memahami birrul walidain. Sebagian memahami, kewajiban berbuat baik dan merawat kedua orangtua hanyalah sebatas si anak ini belum menikah. Sehingga, ketika dia sudah berkeluarga, apalagi sudah memiliki anak, seolah-olah sudah tidak lagi berkewajiban untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya.
Padahal tidak seperti itu. “Kewajiban berbuat baik kepada kedua orangtua itu sepanjang kehidupan kita, bukan sepanjang kehidupan orangtua kita. Jadi sekalipun kedua orangtua sudah meninggal, kita masih berkewajiban untuk berbuat baik kepada mereka. Sebab, kita masih hidup,” ujar suami dari Aan Rohana, Lc, ini dengan tegas.
Dalam sebuah hadits diceritakan, seorang pemuda Anshar menanyakan kepada Rasulullah saw, karena kedua orangtuanya sudah meninggal, apakah dia masih berkewajiban untuk berbuat baik kepada mereka? Padahal selama orangtuanya hidup pemuda ini selalu berbuat baik kepada mereka. Lantas jawab Rasulullah, kamu tetap berkewajiban untuk berbuat baik kepada kedua orangtuamu sekalipun mereka sudah meninggal.
Ustadz Hasib menguraikan bagaimana kita bisa berbuat baik di saat orangtua telah tiada. Pertama, mendoakan kedua orangtua, yaitu doa yang sifatnya umum, seperti “Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada mereka, luaskan kubur mereka, jadikan kuburan mereka seperti taman surga, mudahkanlah hisabnya, masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu.” Kedua, memohon ampunan untuk kedua orangtua, yaitu doa yang lebih spesifik memohonkan ampunan atas dosa dan kesalahan orangtua. Ketiga, melaksanakan janji-janji kedua orangtua yang tidak sempat mereka laksanakan. Keempat, menghormati dan memuliakan sahabat-sahabat orangtua. Terakhir, menyambung silaturrahim dengan keluarga besar kedua orangtua kita.
Dengan begitu, kalau terhadap kedua orangtua yang sudah meninggal saja kita masih diharuskan untuk berbuat baik, apalagi di saat kedua orangtua kita masih hidup? Itulah sebab, kewajiban berbuat baik kepada kedua orangtua ini dituntut selama kita hidup, entah itu kala orangtua masih gagah, saat mereka lanjut usia, bahkan hingga mereka meninggalkan dunia ini. (Rahmi Rizal)
Yuk kita dapatkan tiket surge itu




Friday, May 13, 2016

Suami, Jadilah Pelayan Sejati untuk Istri dan Anakmu

Tolongshareya - Sahabat tolongshareya, perbedaan prinsip atau pendapat dalam memandang cara hidup sering memunculkan kesalahpahaman. Terlebih lagi bila perbedaan itu dijalani dalam hidup berumahtangga. 

Mungkin inilah yang sempat dirasakan oleh seorang sahabat yang kemudian mencurahkannya dalam penggalan-penggalan pesan di ponsel danfacebook. Ia mempertanyakan mengapa pernikahan pada akhirnya mengubur habis mimpinya. Kalau istri bersedia mendampingi suami yang dicintainya untuk meraih semua mimpinya, mengapa sang suami tak bisa melakukan hal yang sama pada dirinya?
Ketika kesalahpahaman terjadi, hak prerogatifnya sebagai imam dalam keluarga menjadi alasannya bersikap. Sebuah alasan yang sebenarnya tak lebih dari sekadar menyelamatkan harga dirinya. Namun, inilah pula yang pada akhirnya kerap menempatkan sang istri untuk terus dan harus mengalah. Tidakkah terpikir oleh suami bagaimana perasaan, impian dan harga diri seorang istri yang mendampingi hidupnya selama ini?
Saya melihat ketulusan anak dan istri yang terus mendukung suami dan ayah mereka dengan doa serta ikhtiar kadang tak sempat didiskusikan. Juga kemauan mereka menjalani masa-masa sulit selama perjalanan berumahtangga.
Mengingat jerih payah dan pengorbanan yang telah mereka berikan, kadang membuat saya malu dan merasa bersalah, betapa saya tidak berjuang melakukan dan memberikan yang terbaik untuk mereka.
Saya pikir suami harus selalu berusaha sekuat tenaga menjadikan dirinya sebagai sosok yang terlatih waktu demi waktu untuk menjadi lebih baik. Kesungguhan ini akan mematrikan dirinya sebagai sosok yang memiliki harga diri di hadapan keluarga, yaitu harga diri yang lahir dari perilakunya, kesungguhannya bekerja, dan sebagainya. Bukan harga diri yang meninggikan dirinya daripada mereka.
Sebagai suami, kita pun harus mengakui dan menyadari keterbatasan kita. Suami tidak harus merasa tercipta dan ditakdirkan menjadi pria hebat, penakluk segala rintangan kehidupan dan “pencipta” impian bagi keluarga. Cukuplah baginya memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada istri dan anak-anaknya untuk tumbuh dan membantu menggapai impian anggota keluarga.
Seorang suami hanyalah “syariat”, jalan dan pijakan anggota keluarga menggapai sukses impian yang sebenarnya telah Allah siapkan. Ia ditugaskan menjadi penjaga keluarga agar tetap seiring sejalan dengan rencana keluarga.
Dia harus memperkokoh kemampuan dirinya demi memperkaya isi impian keluarga dengan memberikan pencerahan ilmu dan pengalaman bagi masa depan mereka yang lebih baik. Ia harus menahan diri dari mengungkung keluarga dengan keinginan sepihak, bahkan ia harus ikhlas manakala rasa terima kasih dan pujian atas pengorbanannya itu tak kunjung ia terima.
Sejatinya sebuah keluarga tidak berjalan hanya dengan komitmen dan prinsip. Keluarga pun harus memiliki kemauan untuk bertumbuh dengan belajar dan berlatih bersama agar mampu bertahan saat kesulitan, tegar di bawah tekanan, dan tak luntur semangat kreatifnya dalam menjalani hidup.
Demi melangkah bersama memperjuangkan impian, setiap suami tampaknya harus siap menjadi penjaga agar semangat dan impian keluarganya tak tercuri.
Adalah sebuah kenyataan bahwa istri dan anak-anak itu ada bukan karena kita pilih. Allah memberi pun bukan untuk dimiliki. Karenanya, marilah kita menjadi “pelayan sejati” untuk titipan terhebat yang Allah berikan.
Semoga bermanfaat bagi sahabat tolongshareya agar bisa hidup harmonis dalam berkeluarga serta menambah cinta kasihnya terhadap keluarga.



Thursday, May 12, 2016

Anda Punya Hutang ? Lakukan 6 Hal Ini Agar Hutang Menjadi Berkah

Tolongshareya -  Sahabat tolongshareya yang dimuliakan Oleh Allah SWT, Kebutuhan ekonomi semakin meningkat dan harga barang yang semakin meningkat membuat masalah hutang piutang menjadi hal lumrah dilakukan kebanyakan orang saat ini. Memberikan hutang kepada yang membutuhkan menjadi salah satu langkah untuk saling tolong-menolong sesama manusia.



Hal inilah yang membuat hutang piutang diperbolehkan dalam ajaran Islam. Bahkan ada pahalanya bagi orang yang memberikan hutang kepada orang yang membutuhkan. Namun, tentu saja pahala tersebut akan diperoleh apabila aktivitas hutang piutang sesuai dengan syariat.

Akan tetapi kebanyakan orang yang justru terjerumus ke dalam perbuatan riba yang dilarang agama. Hal ini dikarenakan mereka tidak mengetahui cara mempraktekkan aktivitas hutang piutang yang dapat mendatangkan berkah. Lantas bagaimana caranya? Berikut ulasannya

1. Jangan Mengambil Manfaat Dari Orang yang Berhutang
Hal pertama yang harus dilakukan agar hutang tersebut berbuah berkah agar si pemberi hutang atau pinjaman tidak boleh mengambil manfaat atau keuntungan dari orang yang berhutang. Itu dikarenakan jika mengambil keuntungan maka sudah termasuk ke dalam perbuatan riba yang dilarang oleh agama. Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila salah seorang kalian memberi hutang (pada seseorang) kemudian dia memberi hadiah kepadanya, atau membantunya naik ke atas kendaraan maka janganlah ia menaikinya dan jangan menerimanya, kecuali jika hal itu telah terjadi antara keduanya sebelum itu.” (HR. Ibnu Majah)

Namun, jika keuntungan tersebut tidak disyaratkan di awal akad maka diperbolehkan si pemberi hutang menerimanya. Seperti saat orang yang berhutang memberikan hadiah kepada pemberi hutang sebagai tanda terimakasih karena telah membantunya. Jabir bin Abdillah meriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘Alaii Wassallam;

“Aku menemui Nabi  saat Beliau berada di masjid, lalu Beliau membayar hutangnya kepadaku dan memberi lebih kepadaku.” (HR. Bukhari)

2. Usahakan Untuk Ada Saksi dan Tertulis
Hal kedua yang harus diperhatikan agar hutang menjadi sebuah berkah adalah usahakan ada saksi yang menemani dan tertulis. Dua hal ini sangat penting dalam proses hutang piutang untuk menghindari potensi kedzaliman yang bisa dilakukan oleh salah satu pihak di lain waktu. 

3. Hendaknya Ada Niat Untuk Melunasi

Ketiga, orang yang berhutang hendaknya berniat untuk segera melunasinya apabila sudah memiliki kemampuan untuk membayar. Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam bersabda; 
“Siapa yang mengambil harta manusia (berhutang) disertai maksud akan membayarnya maka Allah akan membayarkannya untuknya, sebaliknya siapa yang mengambilnya dengan maksud merusaknya (merugikannya) maka Allah akan merusak orang itu.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam menerangkan seseorang yang berhutang dan mempunyai niat buruk untuk tidak melunasinya maka kelak ia akan menghadap Allah dengan menyandang predikat sebagai seorang pencuri.

“Orang mana saja yang berhutang dan berniat tidak membayarnya, maka ia akan datang menghadap Allah sebagai seorang pencuri.” (HR. Ibnu Majah)

4. Lunasi Dengan Cara yang Baik
Selain adanya niat untuk segera membayar apabila sudah memiliki kemampuan, hal yang juga harus dilaksanakan agar hutang menjadi berkah adalah melunasi hutang tersebut dengan cara yang baik. Baik di sini bisa diartikan sebagai waktu yang tepat dalam pelunasan hutang yang sudah disepakati. me

Alangkah lebih baiknya apabila memberikan hadiah atau kelebihan ketika melunasi hutang tersebut. Memberi hadiah atau kelebihan ketika melunasi hutang termasuk salah satu kebaikan yang dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam, hal ini tidak masalah asalkan hadiah atau kelebihan tersebut tidak disyaratkan di awal akad baik oleh yang memberi hutang atau yang berhutang.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam pernah berhutang seekor onta dari seorang laki-laki. Hingga beberapa hari kemudian datanglah orang tersebut kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam untuk menagih ontanya. Lalu Rasulullah meminta para sahabat untuk mencari onta semisal untuk dibayarkan kepada laki-laki tersebut. Setelah dicari kesana kemari onta yang dimaksud oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam ternyata tidak ada melainkan onta yang lebih berumur dari yang dihutang oleh Rasulullah. Rasulullah pun bersabda kepada sahabat;

“Belilah dan berikan kepadanya, karena sebaik-baik kalian adalah yang paling baik ketika membayar hutangnya.”

5. Berikan Penangguhan Pembayaran Kepada si Penghutang

Hal selanjutnya yang juga bisa menuai pahala untuk orang yang melaksankan hutang piutang adalah dengan memberikan penangguhan pembayaran kepada orang yang berhutang apabila ia belum memiliki kemampuan untuk membayar ketika sudah jatuh tempo. 

Dengan memberikan penangguhan pembayaran, maka si pemberi hutang akan mendapatkan banyak keutamaan. Salah satunya adalah ia akan mendapatkan naungan dan perlindungan dari Allah SWT pada hari kiamat kelak. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaii Wassallam;

“Barangsiapa yang ingin diberi naungan oleh Allah dalam naungannya, maka hendaklah ia memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar hutang atau ia bebaskan darinya.” (HR. Muslim)

Setiap harinya ia mendapat pahala sedekah sebesar nilai hutang yang ia berikan ketika ia memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar hutang hingga hutangnya dilunasi. Rasulullah Shalallahu ‘Alaii Wassallam bersabda;

“Barangsiapa yang memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar hutang, maka baginya setiap hari ada pahala sedekah senilai hutang yang ia berikan, sebelum hutang itu lunas. Jika hutang itu belum lunas, lalu dia memberi penangguhan lagi maka baginya setiap hari ada pahala sedekah senilai itu.” (HR. Ahmad)

Bahkan Allah SWT akan memberinya ampunan dan memasukkannya ke dalam Surga. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesunguhnya ada seorang laki-laki yang hidup di zaman sebelum kalian yang didatangi malaikat untuk mencabut ruhnya. Lalu dikatakan kepadanya ‘apakah engkau pernah mengerjakan kebaikan?’ ia menjawab ‘aku tidak tahu’. Lalu dikatakan kepadanya ‘lihatlah!’ ia berkata ‘Aku tidak tahu, hanya saja dahulu sewaktu di dunia aku melakukan jual beli dengan orang dan aku memberi kemudahan kepada mereka, aku memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar, bahkan aku membebaskan orang yang kesulitan membayar’. Maka Allah pun memasukkannya ke dalam Surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Bila Sudah Jatuh Tempo, Jangan Kenakan Denda
Hal terakhir yang harus dilakukan agar hutang menjadi berkah adalah apabila sudah jatuh tempo untuk pembayaran namun si penghutang belum sanggup membayarnya maka jangan kenakan denda. Apabila dikenakan denda ketika adanya keterlambatan pembayaran makan itu sudah termasuk ke dalam riba jahiliyah yang dilarang oleh agama Islam. 

Demikianlah ulasan tentang 6 hal yang harus dilakukan agar kegiatan hutang piutang menjadi berkah. Sebagai kaum muslim kita semestinya mengamalkan keenam langkah tersebut agar proses hutang mendatangkan pahala bagi setiap pelakunya serta menjauhkan diri dari sifat riba yang berbahaya bagi pelaku hutang piutang.

Semoga pengetahuan ini bermanfaat bagi sahabat tolongshareya agar lebih bisa mendekatkan diri Kepada Allah SWT.

Anda Wanita Karir ?? Inilah Tips Berwirausaha Ala Siti Khadijah

Tolongshareya - Sahabat tolongshareya yang dimuliakan oleh Allah, Anda wanita karir ? sudahkah anda mengenal wanita karir yang sukses dalam islam? Siti khadijah istri nabi yang pertama merupakan wanita pertama yang sukses dalam karirnya. Siti khadijah memang terlahir dari keluarga yang mampu, usahanya berada dibanyak tempat tapi Siti Khadijah tak mau berdiam diri dan memfoya-foyakan usaha yang dirintis keluarganya. Sepeninggal ayah dan ibunya Siti khadijah belajar berdagang mempertahankan usaha keluarganya bahkan Siti khadijah dapat mengembangkan usahanya. Berikut cara Siti khadijah menjalankan usahanya

1. Mampu mengelola manajamen wirausaha
Siti khadijah adalah wanita yang mampu mengelola manajamen baik dalam usaha maupun manusianya. Siti khadijah mengangkat seseorang untuk menjalankan usahanya salah satunya adalah nabi Muhammad SAW yang menjadi seorang manajer penjualan dan investasi, namun Siti khadijah tetap mengawasi pekerjaanya melalui orang kepercayaannya. Pengawasan tersebut membuat Siti khadijah mampu mengoptimalkan baik usahnya maupun orang yang menjalankan usahanya.
2. Dapat melihat peluang usaha
Siti khadijah memiliki jiwa wirausaha, mungkin bakat ini diturunkan oleh ayahnya yang merupakan saudagar kaya dan dipelajarinya dari suaminya yang terdahulu. Mampu melihat peluang usaha merupakan jiwa wirausaha yang dimiliki oleh Siti khadijah, Siti khadijah mengetahui peluang usaha di Mesir dimana letak Mesir yang strategis untuk menjalankan usahanya.
3. Dermawan
Siti khadijah melanjutkan usaha keluarganya dengan niat agar tidak menghabiskan harta keluarganya dan membuka usaha untuk orang lain, niat ini bisa meningkatkan perekonomian orang lain begitu juga dengan perekonomian keluarganya. Sikap inilah yang membuatnya terkenal dimata kaum quraisy hingga Siti khadijah disebut sebgai At-Thahirah.
4. Amanah
Orang yang menjalankan wirausaha harus amanah karena hal itulah yang membuat orang percaya pada usaha yang kita jalankan. Begitupun yang dilakukan oleh Siti khadijah sampai usahanya bisa berkembang ke semua penjuru Mesir.
5. Jujur
Orang wirausahawan sejati harus jujur, jangan sekali-kali berbohong karena hal itu bisa merusak kepercayaan pelanggan. Jujur juga merupakan salah satu kunci kesuksesan Siti khadijah dalam menjalankan usahanya sehingga banyak orang yang berani berkerjasama untuk mengembangkan usaha bersamanya.
Semoga bermanfaat dan menginspirasikan sahabat tolongshareya yang ingin menjadi wanita karir seperti Siti Khodijah

2 Rasa Cemburu Istri yang Sangat Dibenci Suami

Tolongshareya - Sahabat tolongshareya, setiap istri pasti mempunyai rasa cemburu pada suaminya, apalagi jika suami keluar dengan rekan kerja perempuan di kantor. Memang tidak salah jika kita cemburu pada suami, bahkan Allah SWT lebih senang jika dalam rumah tangga ada rasa cemburu karena itu berarti ada rasa cinta diantara pasangan tersebut tapi jangan sampai cemburunya istri dibenci suami bahkan oleh Allah SWT. Cemburu seperti apakah itu? Berikut ulasannya

No. 1) Cemburu buta
Suami tidak menyukai istri yang cemburu buta, cemburu tanpa sebab membuat suami akan merasa tidak betah di rumah karena suami merasa selalu dituduh macam-macam. Istri yang terbawa perasaan oleh sikap suami yang kurang perhatian bahkan jarang pulang akan menuduh suaminya punya simpanan diluar rumah. Padahal sebelum menikah istri sudah tahu pekerjaan suami dan resikonya tapi istri tetap menuduh suaminya. Jadi kalian para istri janganlah kalian cemburu tanpa sebab apalagi berani memarahi suami kalian, jika kalian menuduh suami kalian macam-macam maka kalian akan lebih condong memiliki prasangka buruk pada suami sendiri dan hal tersebut tidak sesuai dengan sayri’at islam.
No. 2) Cemburu yang mencurigai
Cemburu yang mencurigai apa maksudnya? Apa bedanya dengan cemburu buta? Cemburu yang mencurigai artinya anda para istri tidak percaya pada suami. Selalu mencurigai apapun yang dilakukan suami. Misalnya: Suami keluar sangat lama padahal izinnya keistri hanya ingin membeli makan tapi sampai malam suami baru pulang. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang dan suami juga memberi penjelasan ke istri berulang-ulang juga tapi apakah kalian sebagai istri langsung percaya? Tentu tidakkan... kecuali jika kalian memang sepenuhnya percaya pada suami.
Istri yang tidak percaya pasti akan mengikuti gerak-gerik suami, hal tersebut sesungguhnya sangat tidak baik, mengapa? Karena kita telah mencurigai suami sendiri, tidak mempercayai suami sendiri hingga istri berani sudzon pada suami sampai-sampai harus mengikuti gerak-geriknya. Suamipun biasanya tidak terima akan sikap istrinya, kenapa? karena suami merasa istrinya tak lagi mempercayainya.
Semoga bermanfaat bagi sahabat tolongshareya, khususnya bagi yang sudah berumahtangga. Dan terimakasih sudah membacanya


Tuesday, May 10, 2016

Inilah Ciri-ciri Anak yang Dekat dengan Ayahnya, Bagaimana Dengan Anak Anda ?

Tolongshareya - Sahabat tolongshareya sudah punya anak kah anda? Jika belum mempunyai mintalah pada Allah agar segera dikasih momongan, Eits tapi bagi yang sudah menikah ya,  kita ketahui bahwa anak biasanya sangat dekat dengan ibunya akan tetapi ada juga lebih dekat dengan ayahnya, seperti apa sih anak yang dekat dengan sang ayah. Memang ada? Berikut adalah beberapa tanda-tanda jika anak kita memiliki kedekatan yang erat dengan sang ayah:

1. Sering mencari ayahnya
Anak anda sering bertanya, bapak ke mana? Bapak, dimana? Pertanyaan anak tersebut menandakan jika dia tak mau kehilangan atau jauh dari sosok yang sangat dicintainya yakni ayah mereka.
2. Menunggu-nunggu kedatangan ayahnya
Anak anda begitu risau jika ayahnya belum sampai rumah? Padahal ayahnya masih di kantor atau bepergian ke luar kota. Jika anak anda berharap-harap ayahnya segera sampai di rumah atau bolak balik bertanya;  ayah pulang jam berapa? Ayah kapan pulangnya? Atau minta ponsel untuk menelepon ayahnya, jika anak sudah bisa menulis dan membaca, menguasai teknik menulis pesan via line, bbm, mesenger, maka anak akan lebih sering menanyakan ;ayah sedang apa, ayah lagi apa, serta mengajak chatting ayahnya. Itu merupakan signal anak tak mau berlama-lama berpisah dengan ayahnya.

3. Sangat ekspresif dan senang luar biasa menyambut ayahnya
Suami anda pulang kantor eh baru terdengar deru kendaraannya saja, si kecil sudah sangat gembira, meloncat-loncat, senang bukan kepalang. Ayah bunda tahu nggak, anak tidak sedang melakukan drama atau memenuhi tuntutan skenario sebuah sinetron lho ya, namun betul-betul ekspresi yang sebenar-benarnya. Bahwasana dia (anak) merasakan kebahagiaan berjumpa kembali dengan ayahnya, setelah seharian tidak ditemui ayahnya di rumah.
4. Ayah menjadi sosok idola
Pernah bertanya pada anak atau ketika ada teman/keluarga bertanya pada anak , kamu anaknya siapa? Lantas anak menjawab; anak ayah! Jangan langsung ditegur atau dimarahi, jawaban itu menandakan bahwa  ayah adalah denyut nadinya, sampai-sampai saat ada yang bertanya anak siapa, anak spontan menjawab "anak ayah". Atau manakala ditanya tentang cita-citanya, anak akan menjawab dengan pedenya " ingin seperti ayah". Ayah yang tiap pagi berangkat ke kantor, atau dinas dengan seragam kenegaraan yang di mata anak begitu gagah dan sempurna, akan menjadi cermin bagi dirinya, bahwa ayahnya adalah potret yang hebat dan kuat.
5. Paling senang bermain ditemani oleh ayah
Sering menjumpai anak begitu antusias dan sangat ceria ketika bermain bersama ayahnya? Anak yang dekat dengan ayah selalu ingin berlama-lama bermain bersenda gurau dengan ayah, tanpa ada bosannya walaupun terkadang ayahnya capek pulang kerja, namun namanya anak yang ada dalam pikirannya adalah dia ingin selalu di samping ayahnya, bermain apa saja, sebab bagi anak, ayah adalah teman yang paling asyik dan penuh kehebohan.
6. Ingin selalu ikut ayahnya, kemanapun ayahnya pergi
Melihat sepintas ayahnya keluar rumah, eh anak langsung bergegas, memanggil-manggil dan merengek minta ikut? Itu salah satu alarm bahwa anak betul-betul berjalinan kuat dengan ayahnya alhasil anak maunya lengket terus sama ayahnya. Sulit dan tak mudah bagi anak melepas ayahnya pergi ke luar rumah tanpa dirinya ikut bersamanya.
7. Ayah sumber rujukan belajar anak
Ketika anak sedang mengerjakan PR
atau belajar, anak kerap menanyakan perihal mata pelajaran yang tidak dimengerti, ke ayahnya? Dalam pandangan anak, ayah adalah orang yang memiliki kemampuan di segala bidang. Anak menganggap ayahnyalah yang mampu menghandle dirinya, tak terkecuali dalam  pelajaran di sekolah yang kurang atau tak dimengerti oleh anak.
8. Menceritakan segala aktifitasnya ke ayah
Anak yang dekat dengan ayah tak sungkan menceritakan apapun kepada sang ayah. Tentang teman-temannya di sekolah, tentang pelajaran yang paling disukai, guru yang mengajar di kelas, kegiatan ekstra, dan sebagainya. Bagi anak ayah adalah pendengar dan pemerhati dirinya yang paling enak diajak kerjasama dalam hal apapun. Termasuk mendengarkan setiap cerita baru yang dibawa oleh si anak.
Nah, sahabat tolongshareya itu antara lain ciri-ciri anak yang memiliki hubungan yang akrab dan dekat dengan ayah. Bagaimana dengan anak anda apakah mempunyai cirri-ciri seperti diatas?
Semoga bermanfaat bagi sahabat tolongshareya dan terima kasih telah membacanya




Subhanallah, Keajaiban Anak Matahari Membuat Para Dokter Pakistan Bingung

Tolongshareya – Sahabat tolongshareya yang dimuliakan oleh Allah SWT, Artikel kali ini mengenai anak 2 bersaudara asal Pakistan dikenal sebagai “anak-anak matahari.” Kasus mereka telah membuat bingung semua dokter di Pakistan.



Anak berusia sembilan dan 13 tahun ini tergolong anak-anak yang normal dan aktif selama siang hari. Namun semua ini berubah setelah matahari terbenam, keadaan mereka menjadi membeku, tidak bisa bergerak atau berbicara.


Javed Akram, seorang profesor kedokteran di Institut Ilmu Kesehatan Pakistan, mengatakan kepada The Associated Press pada Kamis (5/5/2016) bahwa ia tidak tahu apa yang menyebabkan semua itu terjadi pada kedua anak tersebut.


“Kami menganggap hal ini sebagai tantangan. Dokter kami telah melakukan tes medis untuk menentukan mengapa anak-anak ini tetap aktif di siang hari, namun tiba-tiba tidak bisa membuka mata, berbicara, bergerak atau makan saat matahari terbenam,” kata Akram.


Akram mengatakan pemerintah telah memberikan perawatan medis secara gratis kepada dua bersaudara ini, karena berasal dari keluarga miskin.


Kedua bersaudara ini telah menjalani pengujian medis yang dalam di Islamabad. Sampel darah mereka juga telah dikirim ke spesialis di luar negeri untuk pemeriksaan lebih lanjut. Para peneliti juga mengumpulkan sampel tanah dan udara dari desa asal keluarga dua bersaudara ini. Mohammad Hashim, ayah dari dua bersaudara ini berasal dari sebuah desa di dekat Quetta, ibukota provinsi Baluchistan.


“Saya pikir anak-anak saya mendapatkan energi dari matahari,” ungkap Hashim menanggapi keadaan dua anaknya yang tak biasa.


Namun, dokter telah menolak gagasan bahwa sinar matahari berperan dalam membuat kondisi dua anak tersebut. Dokter mencatat bahwa anak-anak ini dapat bergerak selama siang hari, bahkan saat disimpan di ruangan gelap atau selama hujan badai.


Pada siang hari, Shoaib Ahmed yang berusia 13 tahun dan adiknya Abdul Rashid memang tampak terlihat normal aktif, enerjik dan ceria. Apalagi saat mereka muncul dari kamar rumah sakit dan berjalan ke kantin terdekat untuk meminum teh.


Penelitian lebih lanjut terus dilakukan para ahli untuk memecahkan misteri yang melanda kedua bersaudara ini. 
Semoga 2 bersaudara ini selalu diberi kesehatan, Aamiin

Bagaimana dengan anda sahabat tolongshareya apakah sudah bersyukur dengan kondisi sekarang yang sehat bugar. 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

Sunday, May 8, 2016

Inilah Hukum Menolak Ajakan Suami Karena Lelah

Tolongshareya -  Sahabat tolongshareya yang selalu dimuliakan oleh Allah SWT, Dalam Urusan Rumah tangga masalah kebutuhan biologis sangatlah penting, Ketika sang suami ini dipenuhi kebutuhan biologisnya dan sang istri menolak karena lelah telah seharian penuh mengurus anak dan rumah, bolehkah dalam pandangan islam istri menolaknya ? Berikut ini ulasannya


Assalamu’alaikum
Ummi yang saya hormati, saya seorang suami, ada hal yang ingin saya tanyakan mengenai hubungan suami istri. Bolehkah dalam Islam seorang istri menolak ajakan suami untuk berhubungan hanya karena istri sedang letih dan capai? Dalam hal apa saja istri bisa menolaknya, selain sedang datang bulan?
Wassalamu’alaikum
Bapak T, Jakarta
Jawaban Ustz. Herlini (Kontributor Majalah Ummi):
Pada prinsipnya, istri tidak boleh menolak permintaan suami untuk melakukan hubungan suami istri sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam Shahih Bukhari, ”Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidur dan ia menolak, sehingga suaminya tidur dalam keadaan kemarahan maka malaikat akan terus melaknatnya hingga pagi.”

Tentu saja seorang suami harus memelihara dan menjaga istrinya dari pekerjaan yang membuatnya lelah dan capai, sehingga ia senantiasa siap untuk melayani suaminya kapan saja. Bahkan untuk berpuasa sunnah saja, seorang istri diharuskan untuk meminta izin suaminya, sebagaimana sabda Rasulullah saw, ”Janganlah seorang wanita berpuasa, ketika sang suami berada di sisinya, melainkan dengan izinnya. Kecuali pada bulan Ramadhan.”(Muttafaqun ’Alaihi)
Sebagian fuqoha – termasuk mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Az-Zahiri – berpendapat  bahwa pekerjaan rumah bagi seorang istri bukanlah bagian dari kewajibannya, melainkan termasuk dalam ruang lingkup kewajiban yang harus disediakan suami dalam kehidupan rumah tangga. Apabila istri melakukan pekerjaan rumah tersebut, maka itu menjadi amal shalih dan akhlak yang mulia baginya.
Dalam kasus yang Anda tanyakan, dibutuhkan komunikasi yang baik antara suami istri sehingga suami tidak menuntut haknya sementara ada kewajibannya yang belum ia tunaikan terhadap istrinya. Kenapa istri sampai begitu letih dan capai? Apakah karena ia menangani semua pekerjaan rumah tangganya tanpa fasilitas yang diberikan suami seperti khadimat dan sebagainya? Semua yang ia kerjakan adalah kebaikan dan amal shalih, bukan hal yang menjadi kewajibannya. Kewajibannya adalah melayani suami dengan optimal di samping merawat dan menjaga anak-anaknya. Jika ternyata suami sudah menyediakan fasilitas yang memudahkan, namun sang istri masih menolak juga ajakan suaminya, tentu saja sang istri bersalah.
Oleh karenanya diperlukan komunikasi yang hangat dalam hal ini. Hendaknya istri dapat melayani suaminya kapanpun suaminya kehendaki. Sebab bisa saja ketika suami berada di luar rumah, ia tergoda dengan wanita lain dan untuk menjaga dirinya dari nafsu syahwat agar tidak terjatuh dalam perbuatan dosa (zina) ia dapat segera salurkan kepada istri tercintanya di rumah.
Istri boleh menolak berhubungan dengan suami ketika ia haid, nifas dan saat sakit. Selain itu tidak ada alasan bagi istri untuk menolak suaminya. Ketika kondisi lelah, maka bermusyawarahlah bagaimana mengatasinya berdua, apakah istri diberi kesempatan untuk istirahat terlebih dahulu, atau suami bersedia memijat istri setelah itu baru melayani suami. Segala persoalan rumah tangga hendaknya dapat diselesaikan dengan bermusyawarah, khususnya untuk aktivitas hubungan suami istri. Hingga suami dan istri sama-sama dapat menikmatinya sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang.
Semoga ulasan tentang menolak suami karena lelah ini bermanfaat bagi sahabat tolongshareya dan menjadikan ini sebagai pengetahuan berumah tangga yang lebih baik lagi.

Inilah Penjelasan Mengapa Banyak Pantangan Pasca Melahirkan

Tolongshareya - Sahabat tolongshareya yang dimuliakan oleh Allah SWT,  setelah anda melahirkan, pernahkah menghadapi berbagai pantangan entah itu dari ahli kesehatan atau dari nenek moyang? Bete bukan menghadapinya sahabat tolongshareya? Segala-galanya serba diatur dengan disiplin yang ketat. Ibu pasca melahirkan dilarang ini dilarang itu, harus ini dan harus itu, Benarkah demikian sahabatku

Mengapa seorang ibu pasca melahirkan memiliki banyak aturan?ada banyak perubahan fisik dan emosi yang terjadi pada diri bunda pasca melahirkan, yang semuanya membutuhkan waktu untuk kembali normal. Beberapa kondisi itu kami ringkas dibawah ini :
1. Otot-otot tubuh mengalami kekenduran
Sahabat tolongshareya, melahirkan adalah proses yang luar biasa hebat. Selama masa kehamilan dan masa  kontraksi saat akan melahirkan terjadi ketegangan otot-otot tubuh yang kemudian mengendur pasca proses persalinan terjadi. Semua otot seolah kembali muda sehingga membutuhkan kehati-hatian dalam segala tindak-tanduk.
Kondisi ini sangat memungkinkan sahabat tolongshareya merasa lelah, letih dan pegal-pegal di seluruh tubuh sehingga menyebabkan sahabat tolongshareya sulit tidur.
2. Kondisi jahitan pasca melahirkan
Baik melahirkan secara normal ataupun operasi caesar, sahabat tolongshareya akan memiliki jahitan pada bagian tubuh. Karena itu kita harus hati-hati menjaga pola gerak agar jahitan lekas kembali sempurna.
3. Kondisi rahim
Pasca melahirkan rahim memerlukan waktu untuk kembali pada bentuk dan kondisi semula. Selama kehamilan, rahim membesar dan akan mengecil/mengkerut dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan untuk rahim kembali pada posisi semula.
4. Kondisi perut
Pasca melahirkan perut akan mengendur, tetap menggelembung dan terasa bergoyang saat kita berjalan. Menggunakan gurita atau stagen untuk menyangga perut biasanya memudahkan sahabat tolongshareya untuk mudah dalam melakukan aktivitas.
5. Kondisi payudara
Sejak kehamilan, payudara mengalami proses pembesaran secara bertahap dan akan benar-benar membesar menjelang kelahiran hingga di bulan-bulan awal pasca melahirkan.
Terkadang payudara membengkak dan menyebabkan rasa nyeri. Namun setelah si kecil menyusu dengan aktif, berangsur rasa nyeri akan hilang dan payudara akan kembali pada bentuk semula.
6. Kerja ginjal berat
Pasca melahirkan tubuh akan mengeluarkan cairan yang disimpan selama kehamilan secara perlahan dan bertahap. Biasanya ibu pasca melahirkan akan mengeluarkan banyak keringat dan sering buang air kecil. Saat itu, ginjal sedang melakukan pekerjaan berat. Karenanya kita harus banyak mengonsumsi cairan untuk membantu proses kerja ginjal. Jangan biarkan diri kita mengalami dehidrasi.
7. Kondisi kulit dan rambut
Pasca melahirkan Bunda akan menemui beberapa bagian kulit Bunda (seperti perut, payudara, paha dan pantat) yang berubah warna seperti hitam kecoklatan. Tak perlu khawatir, kondisi ini akan membaik setelah 4 hingga 6 bulan.
Selain itu, kita akan mengalami rambut rontok yang hebat pada minggu atau bulan-bulan awal pasca melahirkan. Tapi itu tidak berlangsung selamanya kok sahabat tolongshareya...
8. Perubahan hormon
Terjadi perubahan hormon secara drastis pasca melahirkan, seperti hormon estrogen dan progesteron yang selama masa kehamilan meningkat tajam dalam waktu 24 jam pasca melahirkan akan kembali normal dengan cepat, penurunan kadar hormon tiroid dan insulin. Hal ini sering memicu bunda mengalami depresi yang sering dikenal dengan postpartum depression.
Nah sahabat tolongshareya, kondisi-kondisi di atas adalah alasan mengapa kita harus ekstra hati-hati menjaga diri pasca melahirkan. Semua demi kebaikan kita bukan dan juga demi kebaikan si buah hati
JAdi  jalani semua dengan penuh kesabaran ya Sahabat tolongshareya.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat tolongshareya khususnya bagi ibu yang baru saja melahirkan si buah hati nya.

Saturday, May 7, 2016

Ternyata, Anak Hasil Zina Bernasab pada Ibunya

Tolongshareya - Sahabat tolongshareya yang dimuliakan oleh Allah SWT dan semoga selalu dalam LindunganNYA, sesungguhnya zina meupakan perbuatan keji dan dapat merusak nasab seseorang jika dari hasil perzinaan tersebut melahirkan seorang anak. Karena ternyata masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa anak hasil zina tidak bernasab pada bapak biologisnya sekalipun bapak dan ibunya tersebut telah menikah setelah terjadinya kehamilan. 
Gambar abiummi.com
Fakta ini mengharuskan seorang anak hasil zina bernasab pada ibunya, dan tidak bisa seorang anak hasil zina menyantumkan nama bapaknya di belakang namanya, melainkan harus menyandingkan nama ibu kandungnya sebagaimana Nabi Isa yang disandingkan nasabnya pada ibunya yakni Isa bin Maryam karena ia diciptakan Allah tanpa bapak. 
“Siapa yang mengaku anak seseorang, sementara dia tahu bahwa itu bukan bapaknya maka surga haram untuknya.” (HR. Bukhari no. 6385)

Selain masalah nasab, perlu juga diperhatikan mengenai hak waris. Seorang anak hasil zina tidak berhak mewarisi harta dari ayah biologisnya, kecuali jika ayahnya tersebut menuliskan wasiat yang membagikan hartanya pada anak tersebut.
"Siapa yang mengklaim anak dari hasil di luar nikah yang sah, maka dia tidak mewarisi anak biologis dan tidak mendapatkan warisan darinya.” (HR. Abu Dawud, kitab Ath-Thalaq, Bab Fi Iddi’a` Walad Az-Zina no. 2266)
"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka TIDAK dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya…" (HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth).
Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan adalah mengenai wali nikah, terutama jika anak hasil zina tersebut adalah perempuan, maka ayah biologisnya sekalipun tidak berhak menjadi wali nikahnya. Tidak hanya bapak biologis, bahkan juga kakek, maupun paman dari bapak biologis, tidak berhak menjadi wali. Karena mereka bukan paman maupun kakeknya secara nasab. Lalu siapakah wali nikahnya? Orang yang mungkin bisa menjadi wali nikahnya salah satunya yaitu wali Hakim (pejabat resmi KUA).
Memang ada pendapat yang berbeda mengenai masalah status nasab anak hasil zina ini, yakni ada juga sebagian ulama yang membedakannya ke dalam 2 kategori:
  • Jika lahirnya bayi tersebut setelah enam bulan pernikahan, maka laki-laki yang menikahinya boleh menjadi ayahnya secara nasab, sehingga boleh menjadi wali (jika anak itu perempuan), dan berhak mendapatkan waris.
  • Jika lahirnya bayi tersebut sebelum enam bulan pernikahan, maka bayi itu tidak bisa dinasabkan ke ayahnya, hanya ke ibunya. Konsekuensinya ayahnya tidak bisa menjadi wali (jika anak itu perempuan), dan tidak pula saling mewarisi.
Dua kategori di atas disampaikan oleh umumnya para ulama, kecuali Imam Abu Hanifah yang mengatakan sama saja, kapan pun bayi itu lahir, maka dia bisa dinasabkan kepada ayahnya itu.
Sahabat tolongshareya mengingat sangat pentingnya masalah ini, tentu saja sebagai muslimah kita perlu menjaga diri dari pergaulan bebas yang merusak diri dan juga mengacaukan nasab. Maka hindari zina merupakan pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan semoga kita selalu mendapatkan Ampunan dari Allah SWT.
Wallaahu a’lam.

Friday, May 6, 2016

4 PENYEBAB Keuangan Keluarga Selalu Kurang, Walaupun suami Istri Bekerja

Tolongshareya – Sahabat tolongshareya yang dimuliakan oleh Allah, Semoga anda yang membaca ini diberi kemudahan dalam mencari rezeki, Aamiin
Dijaman sekarang Kesulitan dalam hal ekonomi kerap kali melanda kita semua, khususnya bagi yang sudah berumah tangga. Terkadang nafkah yang diberikan oleh suami tidak bisa mencukupi kebutuhan anggota keluarga. Hal tersebut membuat istri harus turun tangan membantu suami dalam mencari uang tambahan demi mencukupi kebutuhan keluarga.



Anda akan mulai berpikir untuk mencari lowongan kerja atau berwirausaha ala kadarnya demi tercukupinya kebutuhan rumahtangga. Tidak jarang di antara kita yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di luar rumah demi tercukupinya kebutuhan keluarga. 
Namun, pada kenyataannya masih banyak ditemui kasus keuangan keluarga yang masih kurang meskipun keduanya sudah bekerja. Mengapa bisa hal demikian bisa terjadi? Berikut ini ada beberapa alasan keuangan keluarga tetap kurang meski istri ikut bekerja.

1. Bekerja Karena Paksaan (Tidak Ikhlas)

Hal pertama yang bisa menjadi alasan keuangan keluarga tersebut tetap kurang meski keduanya sudah bekerja adalah jika suami yang memaksa istri untuk membantu keuangan keluarga. Padahal sebenarnya si istri tidak mau bekerja karena berbagai alasan, maka bisa jadi suami telah mengabaikan hak istrinya, 

Oleh sebab itu, sebelum meminta istri untuk membantu suami bekerja, ada baiknya untuk bertanya kepadanya apakah ia ikhlas melakukan itu semua.  Adapun hal uang harus dilakukan istri yaitu hanya ada dua jalan keluar, yakni mengikhlaskan hati untuk membantu suami atau berhenti bekerja dengan kesepakatan bersama. 


Jika istri dipaksa bekerja sementara keungan keluarga tak juga tercukupi, hal ini justru dapat menimbulkan masalah baru yakni hilangnya keharmonisan keluarga karena keduanya terlalu letih bekerja. 


2. Istri Melupakan Kewajibannya

Mungkin banyak istri yang mengingingkan memiliki karir dan meminta izin kepada suaminya. Namun setelah sang suami mengizinkan, ternyata istri banyak melupakan hak-hak anak dan suaminya terhadap dirinya. Hal ini tentu saja bisa menyebabkan berkurangnya keberkahan rumah tangga.

Oleh sebab itu, jika istri ingin berkarir di luar ingatlah bahwa kodrat seorang istri adalah untuk melayani suami dan membimbing anak. Tunaikanlah kewajiban tersebut terlebih dahulu baru ikut serta dalam membantu suami mencari nafkah namun jangan sampai mengabaikan hak suami dan anak.


3. Meningkatnya Gaya Hidup Keluarga

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman saat ini sangatlah pesat. Ada banyak keinginan yang harus dipenuhi demi gaya hidup. Hal itu pula yang mungkin dialami oleh suami dan istri dalam rumah tangga. 

Ketika mereka memiliki penghasilan kecil, pasangan ingin biasanya akan hidup sangat hemat agar keuangan keluarga terkendali. Namun, ketika ada tambahan penghasilan dari sang istri, keinginan untuk menghambur-hamburkan uang pun bermunculan. Meningkatnya gaya hidup ini tentu akan berpengaruh terhadap penghasilan yang diperoleh. Meskipun keduanya bekerja, namun pengeluarannya juga banyak tentu keuangan keluarga tersebut tetap saja kurang. 


4. Terjebak Oleh Riba

Alasan terakhir yang menyebabkan keuangan keluarga tetap kurang meski istri ikut bekerja adalah terjebak di dalam riba. Seperti yang diketahui bahwa tiba merupakan perbuatan yang diharamkan di dalam Islam. Hal tersebut dikarenakan bisa membuat hilangnya keberkahan dalam keuangan rumah tangga itu. 

Demikianlah ulasan mengenai 4 alasan keuangan keluarga tetap kurang meski istri ikut bekerja. Meskipun kasus ini tidak terjadi pasang semua pasangan suami istri dalam rumah tangga, namun ada baiknya untuk lebih diperhatikan. Agar segala usaha yang dilakukan itu mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Semoga yang membaca ini diberi kemudahan oleh Allah menjemput Rejeki NYA, Khususnya bagi sahabat tolongshareya yang selalu setia menjadi pembaca. Terima kasih atas kunjungannya