Friday, April 29, 2016

Dikala Mendengar Iqamah, Bolehkah kita Berlari Menuju Shalat Berjamaah



Tolong share – Sahabat tolong share, Sholat berjamaah merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, disamping nilai pahalanya besar juga manfaatnya luar biasa, Ketika kita hendak menuju masjid dan disaat itu muadzin iqamah maka berjalanlah dengan tenang, Inilah alasannya kita tidak boleh berlari agar tidak ketinggalan rakaat dalam sholat
 

Namun ada syaratnya diperbolehkan dengan berjalan cepat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلاَ تُسْرِعُوا ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat. Namun bersikap tenang dan khusyu’lah. Gerakan imam yang kalian dapati, ikutilah. Sedangkan yang luput dari kalian, sempurnakanlah.” (HR. Bukhari, no. 636; Muslim, no. 602)

Ibnu Taimiyah dalam Syarh Al-‘Umdah (hlm. 598) berkata bahwa jika dikhawatirkan luput dari jama’ah atau shalat jum’at secara keseluruhan, maka tidaklah pantas melarang cepat untuk menuju shalat tersebut. Karena kalau luput, tidak bisa lagi dilakukan.
Ibnu Qudamah dalam Al-Kaafi (1: 291) juga menjelaskan seperti di atas.

Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah (27: 182) mengatakan bahwa ulama Malikiyah membolehkan berjalan cepat menuju shalat berjama’ah agar tetap mendapatkan keutamaan shalat berjamaah. Boleh berjalan cepat ketika itu asal tidak menghilangkan kekhusyu’an.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat tolong share yang sering melakukan shalat berjamaah di masjid, dan semoga yang belum istiqomah berjamaah dimasjid bisa segera berjamaah juga.


sumber : https://rumaysho.com

Inilah Sanksi Bagi Pezina yang Belum Menikah



Tolong share – Sahabat tolong share, Di jaman masa kini batasan antara wanita dan pria sudah tidak dihiraukan lagi. Tak heran jika pada akhirnya akan timbul perzinahan yang begitu di benci Allah SWT. Hukuman terhadap pezina di negara ini yang terbilang ringan tidak membuat mereka para pezina jera.



Alhasil kini perzinahan semakin marajarela. Mulai dari kalangan dewasa, bahkan remaja sekalipun sudah berani melakukan aktivitas fisik tanpa ada ikatan pernikahan. Jika dalam satu kondisi ketahuan, maka jalan yang diambil adalah menikahkan keduanya.
Padahal dalam syariat Islam tidak semudah itu. Pezina yang belum pernah menikah harus menerima hukuman yang begitu pedih dan dipastikan menimbulkan efek jera.  Lalu seperti apa hukuman mereka? Berikut ringkasannya

Memang hukuman ini terlihat begitu kejam. Bahkan Provinsi Aceh yang menerapkan hukuman cambuk bagi pezina langsung menjadi sorotan dunia. Mereka mengecam hukuman tersebut.

Namun siapa yang tidak was-was melakukan perzinahan di Aceh yang menerapkan hukum Islam ini? Sehingga pada akhirnya, mereka berusaha menjaga diri agar terhindar dari hukuman cambuk tadi. Aktivitas zina yang merusak moral pun bisa sedikit demi sedikit menurun.

Lantas bagaimana dengan negera-negara yang membebaskan hubungan pra nikah di negaranya? Apakah tidak iba melihat perempuan usia belia mengandung tanpa suami dan harus mengurusi bayinya sendiri.

Tidak di pungkiri, negara-negara penentang syariat islam ini saja tidak mampu menyelesaikan permasalahan zina  dan akibat yang timbul di negaranya. Namun mereka begitu lantang ketika melihat umat Islam menerapkan syariatnya.

Berdasarkan hadist Nabi Muhammad SAW hukuman bagi pezina yang belum menikah adalah dicambuk seratus kali dan diusir dari daerahnya selama satu tahun.

Zaid bin Kholid ra dan Abu Hurairah ra menceritakan, ada dua orang laki-laki Badui datang menghadap Rasulullah SAW. Laki-laki yang pertama bertanya kepada Rasulullah “Ya Rasulullah, sudikah engkau menghukumku atas dasar Kitab-kitab-Nya?”

Lalu pria kedua berkata “Benar Rasulullah, putuskanlah kitab kami berdasarkan Kitabullah”

“Terangkan dulu apa masalahnya,” Pinta Nabi Muhammad SAW.

Berceritalah laki-laki yang kedua “Putraku adalah pekerja upahan (laki-laki pertama) lalu putraku ini dahulu sebelum menikah pernah berzina dengan wanita yang sekarang menjadi istrinya (laki-laki pertama). Aku diberi tahu bahwa putraku harus dijatuhi hukuman rajam. Untuk itu aku telah menebus hukumannya dengan seratus ekor kambing (Yang belum beranak) dan seratus ekor kambing yang telah beranak. Lalu aku tanyakan lagi kepada Ahli hukum, lantas diterangkan lagi bahwa putraku harus dijatuhi hukuman berupa seratus kali pukulan dan dibuang selama satu tahun, sedangkan istrinya (laki-laki pertama) harus dijatuhi hukuman rajam”

Mendengar perkara tersebut, Nabi Muhammad SAW bersabda “Demi Tuhan (yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Aku akan memetuskan perkara kalian ini berdasarkan Kitabullah. Semua kambing harus kamu ambil kembali. Dan atas putramu akan dijatuhi hukuman pukulan seratus kali dan dibuang selama satu tahun. Dan engkau Hai Unais, temui istri (laki-laki pertama) dan interogasi dia. Jika dia mengaku berzina maka rajamlah dia ”

Istri laki-laki itupun mengaku berbuat zina. Untuk itu, Rasulullah SAW memerintahkan agar Ia dirajam (HR. Bukhari Muslim).

Dalam riwayat lain Nabi Muhammad SAW bersabda “Perawan atau bujang yang berzina hendaklah didera (dicambuk) seratus kali dan diasingkan dari negerinya selama satu tahun” (HR Muslim)

Jelaslah bahwa sanksi hukum bagi pelaku zina yang belum pernah menikah (Baik laki-laki bujang maupun gadis perawan) adalah dicambuk 100 kali dan diusir dari daerahnya selama 1 tahun.

Tentang hukuman pengasingan bagi pelaku zina yang masih gadis, ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Syafi’ie, pengasingan harus dilakukan dengan catatan si wanita harus disertai dengan mahromnya.

Sebaliknya, menurut Imam Malik hanya pezina perjaka yang dikenai hukuman buang, sedang wanitanya tidak dibuang, sebab mereka merupakan aurat yang harus disembunyikan.

Semoga ulasan tentang hukuman bagi pezina ini bermanfaat dan dapat mencegah perzinaan khususnya di negara kita tercinta indonesia. Dan terima kasih sahabat tolong share telah membacanya.

Bagikan kepada yang lainnya agar perzinaan dapat berkurang




Sumber : http://www.infoyunik.com

Thursday, April 28, 2016

Seorang Atheis Bertanya "Siapa yang menciptakan Allah?" Pemuda Ini Menjawab hingga Atheis tak berkutik

Tolong share – Sahabat tolong share, Ada seorang Atheis yangg memasuki sebuah masjid, dia mengajukan 3 pertanyaan yg hanya boleh dijawab dengan akal. Artinya tidak boleh dijawab dengan dalil, karena dalil itu hanya dipercaya oleh pengikutnya, jika menggunakan dalil (naqli) maka justru diskusi ini tidak akan menghasilkan apa-apa...




Pertanyaan atheis itu adalah:


1. Siapa yang menciptakan Allah?? Bukankah semua yg ada di dunia ada karena ada penciptanya?? Bagaimana mungkin Allah ada jika tidak ada penciptanya?? 


2. Bagaimana caranya manusia bisa makan dan minum tanpa buang air?? Bukankah itu janji Allah di Syurga?? Jangan pakai dalil, tapi pakai akal.... 


3. Ini pertanyaan yang terakhir, kalau iblis itu terbuat dari Api, lalu bagaimana bisa Allah menyiksanya di dalam neraka?? Bukankah neraka juga dari api?? 


Tidak ada seorangpun jamaah yang bisa menjawab, kecuali seorang pemuda.


Pemuda itu menjawab satu per satu pertanyaan sang atheis :


1. Apakah engkau tahu, dari angka berapakah angka 1 itu berasal?? Sebagaimana angka 2 adalah 1+1 atau 4 adalah 2+2?? Atheis itu diam membisu..


"Jika kamu tahu bahwa 1 itu adalah bilangan tunggal. Dia bisa mencipta angka lain, tapi dia tidak tercipta dari angka apapun, lalu apa kesulitanmu memahami bahwa Allah itu Zat Maha Tunggal yg Maha mencipta tapi tidak bisa diciptakan??"


2. Saya ingin bertanya kepadamu, apakah kita ketika dalam perut ibu kita semua makan? Apakah kita juga minum? Kalau memang kita makan dan minum, lalu bagaimana kita buang air ketika dalam perut ibu kita dulu?? Jika anda dulu percaya bahwa kita dulu makan dan minum di perut ibu kita dan kita tidak buang air didalamnya, lalu apa kesulitanmu mempercayai bahwa di Syurga kita akan makan dan minum juga tanpa buang air??


3. Pemuda itu menampar sang atheis dengan keras. Sampai sang atheis marah dan kesakitan. Sambil memegang pipinya, sang atheis-pun marah-marah kepada pemuda itu, tapi pemuda itu menjawab : "Tanganku ini terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah..dan pipi anda juga terbuat dari kulit dari tanah juga..lalu jika keduanya dari kulit dan tanah, bagaimana anda bisa kesakitan ketika saya tampar?? Bukankah keduanya juga tercipta dari bahan yg sama, sebagaimana Syetan dan Api neraka??


Sang athies itu ketiga kalinya terdiam...


Sahabat, pemuda tadi memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak semua pertanyaan yg terkesan mencela/merendahkan agama kita harus kita hadapi dengan kekerasan. Dia menjawab pertanyaan sang atheis dengan cerdas dan bernas, sehingga sang atheis tidak mampu berkata-kata lagi atas pertanyaannya..


Itulah pemuda yg Islami, pemuda yg berbudi tinggi, berpengtahuan luas, berfikiran bebas...tapi tidak liberal... tetap terbingkai manis dalam indahnya Aqidah...


Ada yg berkata bahwa pemuda itu adalah Imam Abu Hanifah muda. Rahimahullahu Ta'ala...

Semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat tolong share dan menjadikan kita semakin bertaqwa kepada Allah SWT,
Hanya Allah yang bisa member taufiq dan hidayah


Sumber : pedomanmuslim.com

Selain Nabi ADAM AS, Ada 3 Bapak Dari Seluruh Umat Manusia.

Tolong share – Sahabat tolong share yang dimuliakan oleh Allah, Kita ketahui bahwa Nabi Adam AS adalah Manusia yang pertamakali diciptakan oleh Allah, Beliau juga Bapak dari semua manusia,Ada seseorang bertanya apa benar bahwa Nabi Nuh Bapak Kedua Manusia? 



Seseorang bertanya:

Apa benar, Nabi Nuh Bapak Kedua Manusia?


 Jawaban:


Bismillahirrohmanirrohim

Sebagian ulama menyebutkan bahwa manusia yang bergelar Abul Basyar (bapaknya manusia) ada 3:


Pertama, Adam ‘alaihis salam. Beliau manusia pertama dan bapak selluruh manusia seperti yang kita kenal bersama.


Kedua, Syits putra Adam. Beliau satu-satunya putra Adam yang keturunannya masih hidup. Sehingga manusia setelahnya adalah keturunan beliau.


At-Thabari dalam Tarikhnya mengatakan,



وذرية آدم كلهم جهلت أنسابهم وانقطع نسلهم إلا ما كان من شيث بن آدم فمنه كان النسل وأنساب الناس اليوم كلهم إليه دون أبيه آدم فهو أبو البشر إلا ما كان من أبيه وإخوته ممن لم يترك عقبا

Keturunan Adam semuanya tidak diketahui nasabnya dan terputus garis turunannya, kecuali keturunan Syits bin Adam. Garis nasab seluruh manusia saat ini, berasal dari Syits, seteah bapaknya. Maka beliau abul basyar (bapak manusia), selain manusia anak bapaknya dan saudara-saudaranya yang tidak meninggalkan keturunan. (Tarikh at-Thabari, 1/104).

Ketiga, Nabi Nuh ‘alaihis salam

Beliau menjadi bapak seluruh manusia. Karena setelah banjir bandang, hanya orang di kapal Nuh yang selamat. Namun tidak ada satupun yang berketurunan, selain Nuh ‘alaihis salam.


Allah ta’ala berfirman menceritakan kejadian zaman Nabi Nuh,



وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ. وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ . وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Nuh telah berdoa kepada Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; “Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. (QS. as-Shaffat: 75 – 79).


Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat tafsir ayat,



وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.”


Ibnu Katsir mengatakan,



قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس يقول: لم تبق إلا ذرية نوح عليه السلام.

Dari Ali bin Abi Thalhah, bahwa Ibnu Abbas mengatakan, ‘Tiada manusia yang tersisa selain keturunan Nuh ‘alaihis salam.’



وقال سعيد بن أبي عروبة، عن قتادة في قوله: { وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ } قال: الناس كلهم من ذرية نوح [عليه السلام]

Dari Said bin Abi Urwah dari Qatadah, tentang firman Allah di atas, beliau mengatakan, ‘Semua manusia adalah keturunan Nuh ‘alaihis salam.’ (Tafsir Ibn Katsir, 7/22).


Dalam Mu’jam al-Buldan dinyatakan,



كان أول من نزله نوح عليه السلام لما خرج من السفينة ومعه ثمانون إنسانا فبنوا لهم مساكن بهذا الموضع وأقاموا به فسمي الموضع بهم ثم أصابهم وباء فمات الثمانون غير نوح عليه السلام وولده فهو أبو البشر كلهم

Orang pertama yang turun kapal adalah Nuh ‘alaihis salam, ketika beliau keluar dari kapall, beliau bersama 80 manusia. Mereka membangun tempat tinggal di tempat itu, dan menetap di sana. Kemudian mereka tertimpa wabah penyakit, hingga 80 orang  tadi mati selain Nuh ‘alaihis salam dan anaknya. Maka beliau adalah Abul Basyar (bapak seluruh manusia). (Mu’jam al-Buldan, 2/84).


Wallahu a’lam.

Semoga pengetahuan ini bermanfaat bagi sahabat tolong share yang selalu ingin menimba ilmu, baik ilmu dunia maupun akhirat

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits 



Sumber: http://www.pedomanmuslim.com